Jakarta Mantan vokalis Peter Pan Ariel divonis bersalah 3,5 tahun penjara gara-gara kasus video porno. Kini, muncul kasus serupa dengan pemeran diduga anggota DPR Karolin Margret. Apa beda keduanya?

Menkominfo Tifatul Sembiring menilai, ada dua jenis pelanggaran yang terjadi dalam kasus video porno mirip anggota DPR. Pertama, pelanggaran UU ITE yakni orang yang mengunggah dan menyebarkan video tersebut. Kedua, pelanggaran UU Pornografi, yakni orang yang sengaja membuat video tersebut.

“Kalau dia menyebarkan itu jadi ini ya, tentu itu dari bahasa hukumnya kita serahkan ke kepolisian dan kejaksaan. Nanti dilihat siapa yang menyebarkan itu,” jelas Tifatul di kompleks istana kepresidenan, Jakarta, Kamis (26/4/2012).

“Pertama kan ada pembuatan filmnya. tentu akan diselidiki yang terlibat dulu,” sambungnya.

Si penyebar video, kata Tifatul bisa terkena ancaman hukuman maksimal hingga 12 tahun penjara. Sementara pembuatnya bisa dijerat hukuman penjara juga.

“Kalau kami akan memberikan data bahwa diupload pertama kali lewat mana,” ucapnya.

Ariel sebelumnya divonis 3,5 tahun bui karena melanggar Pornografi. Menurut hakim, hal yang memberatkan Ariel adalah karena sebagai publik figur terdakwa seharusnya menyadari tindakannya ditiru oleh penggemarnya. Yang meringankan, terdakwa belum pernah tersangkut kasus hukum dan masih muda.

Bunyi pasal 29 UU Pornografi: Setiap orang yang memproduksi, membuat, memperbanyak, menggandakan, menyebarluaskan, menyiarkan, mengimpor, mengekspor, menawarkan, memperjualbelikan, menyewakan, atau menyediakan pornografi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling singkat 6 (enam) bulan dan paling lama 12 (dua belas) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp 250.000.000,00 (dua ratus lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp 6.000.000.000,00 (enam miliar rupiah).

Sementara itu, kasus video porno yang melibatkan anggota DPR Yahya Zaini dan pedangdut Maria Eva pada tahun 2006, tidak tersentuh hukum. Kala itu Yahya ‘hanya’ mundur dari dunia politik, sebaliknya Maria Eva malah banjir order menyanyi.

Jakarta Dalam berbagai survei menunjukkan kepercayaan masyarakat terhadap partai politik sangat rendah sehingga dukungan terhadap partai politik semakin menurun. Ekspektasi masyarakat terhadap pemimpin ideal juga terbentur pada egoisme partai yang selalu mencalonkan tokoh internalnya meski tidak populer bagi masyarakat.

Deputi Sekretaris Wakil Presiden Bidang Politik, Dewi Fortuna Anwar berpandangan setelah ambang batas parlemen sebesar 3,5 persen dalam Undang-undang Pemilu diketok palu, maka ke depan konfigurasi untuk mencalonkan pemimpin yakni presiden masih sangat tinggi, meski hanya parpol yang dengan minimal 20 persen suara yang bisa mengajukan calon.

“Mengingat bahwa pluralisme di partai itu masih sangat tinggi. Maka bisa diperkirakan jumlah partai politik yang mendapatkan kursi di parlemen ini masih sangat tinggi. Itu juga artinya bahwa konfigurasi partai-partai untuk memajukan calon juga masih kompleks,” ujar Dewi Fortuna saat berbincang di Hotel Four Season, Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Kamis (26/4/2012).

Pada akhirnya, dengan banyaknya parpol tersebut akan mengakibatkan terjadinya tawar-menawar politik antar partai untuk memuluskan jagonya. Dewi pun mengajak masyarakat untuk bisa melihat lebih jeli parpol-parpol meski belum tentu masyrakat akan puas dengan figur yang diusung parpol tersebut.

“Karena figur-figur yang menurut rakyat itu layak muncul, tidak sama dengan figur yang lewat dengan proses ini,” kata Dewi Fortuna.

Dengan penyederhanaan partai, lanjut Dewi Fortuna, ada beberapa hal yang diharapkan dapat tercipta. Pertama, masyrakat menginginkan pilihan yang dipilih memiliki kesempatan yang efektif untuk dapat menggolkan saran-saran dari masyarakat. Kedua, unntuk aliansi di parlemen sehingga bisa diprediksi kemana arah partai tersebut. “Seperti naik sepeda dia mau belok kiri ternyata dia belok kanan, jadi masyarakat bingung. termasuk di dalam koalisi pun bingung jadi ketidakpastian prilaku ini semakin tinggi,” terangnya.

Selanjutnya, dengan sistem penyederhanaan partai, maka pemerintah dapat mengetahui siapa partnernya di legislatf. Tidak seperti yang terjadi saat ini. “Kalau kita konsisten dengan sistem presidensil adalah pilihan partai sederhana idealnya lima,” sebutnya.

Pada kesempatan itu, khusus untuk calon independen, Dewi mengakui bahwa untuk 2014 akan tidak mungkin mencalonkan seorang dari unsur independen karena terbentur oleh Undang-undang, kecuali jika para politisi di DPR kembali berniat untuk mengamandemen konstitusi. “Untuk 2019 itu barangkali masih mungkin jika seandianya teman-teman di DPR dan DPD melakukan amandemen itu,” terangnya.

lalu bagaimana menghubungkan ekspektasi masyarakat dengan kondisi seperti saat ini? Dewi Fortuna meminta masyarakat tidak boleh menyerah dengan kondisi seperti ini. Peranan civil society, media massa bisa menjadi daya penekan untuk parpol sehingga dapat berpikir dalam waktu jangka panjang.

“Berpikir lebih visioner dan berpikir mereka (parpol) harus beri kepuasan pada pasar yang semakin demanding ini,” ujarnya.

Dewi Fortuna mengingatkan, meski pemilihan presiden dilakukan escara langsung tetapi kepopularitasan partai tidak selalu berbanding lurus dengan kepopularitasan seseorang. Dewi Fortuna mencontohkan, Seperti pada tahun 2004 ketika Golkar memenangkan Pemilu, namun calon presiden Golkar saat itu Wiranto tidak terpilih menjadi presiden. 

Menurutnya, meski Ketua Golkar memiliki kekuatan nyata di DPD I dan DPD II tetap belum menjadi faktor penentu untuk menjadi pilihan rakyat dan ini dibuktikan dalam beberapakali pelaksaan pilres lalu.

“Begitu juga PDIP, pernah tampil dan tidak tentu menang. Jadi dengan demikian partai tidak bisa menutup diri terhadap aspirasi luas di masyarakat itu tadi,” kata Dewi Fortuna

akarta Berdasarkan hasil penelusuran tim Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI), ditemukan fakta tiga TKI asal Lombok Timur, NTB diberondong tembakan oleh polisi Malaysia.

Temuan ini didapat dari kunjungan lapangan Direktur Pengamanan Kedeputian Perlindungan BNP2TKI Brigjen (Pol) Bambang Purwanto bersama tim di Malaysia selama dua hari.

Untuk menelusuri prosedur penembakan tiga TKI yang tidak wajar itu, Bambang mendatangi kepolisian di Malaysia dan mendapatkan keterangan akan segera diumumkan pihak berwenang di sana. Tiga TKI yang tewas adalah Herman (34) dan Abdul Kadir (25), asal Dusun Pancor Kopong, Desa Pringgasela Selatan, Kecamatan Pringgasela, Lombok Timur, NTB serta Mad Noor (28) beralamat Dusun Gubuk Timur, Desa Pengadangan, Kecamatan Pringgasela, Lombok Timur.

“Mereka hanya menegaskan secepatnya dan soal persis waktunya tidak disampaikan,” tegas Bambang dalam keterangan tertulis yang diterima detikcom, Kamis (26/4/2012). 

Menurutnya, penembakan pada tiga TKI terjadi di area Port Dickson (pelabuhan), Negeri Sembilan, Malaysia pada 24 Maret 2012 sekitar pukul 05.00 waktu setempat.

”Penembakan dilakukan atas dugaan para TKI melakukan upaya perampokan di kawasan Kampung Tampin Kanan Tinggi, Port Dickson, Negeri Sembilan,” jelasnya.

Ketika diberondong tembakan, kata Bambang, ketiga TKI diketahui polisi menggunakan masker di wajahnya, membawa parang, serta menggunakan sarung tangan.

Keterangan yang diperoleh juga menyebutkan, para TKI berusaha melawan hingga polisi melepaskan tembakan berkali-kali ke bagian wajah dan tubuh atau dada, yang kemudian membuat ketiganya meninggal dengan cara mengenaskan.

Ia menambahkan, jasad para TKI lantas dibawa ke RS Port Dickson, namun tidak dilakukan tindakan autopsi langsung karena ketiadaan data diri. Autopsi pun baru dilakukan pada 26 dan 27 Maret 2012, setelah dinyatakan oleh Wildan selaku keluarga sekat para korban di samping penegasan seorang majikan (pengguna) bernama Lim Kok Wee, yang juga mengenal Abdul Kadir sebagai pekerjanya saat keduanya bertandang ke rumahsakit dengan diantar petugas polisi, 25 Maret 2012.

Autopsi pertama pada 26 Maret terhadap dua jenazah yaitu Abdul Kadir Jaeleni dan Herman. Jasad Abdul Kadir ditangani dokter Mohd Khairul Izzati Omar sedangkan dokter Muhammad Huzaifah Rahim mengautopsi jasad Herman. Selanjutnya pada 27 Maret, giliran jasad Mad Noor yang diotopsi dokter Safooraf.

”Hasil autopsi menyimpulkan mereka tewas oleh tembakan berkali-kali di bagian kepala maupun tubuh korban,” kata Bambang. 

Adapun sijil (sertifikat kematian) menyangkut ketiga TKI dikeluarkan rumahsakit pada 26 Maret untuk almarhum Abdul Kadir dan Herman, sementara almarhum Mad Noor sijilnya keluar pada 27 Maret.

GambarJakarta Kejaksaan Agung (Kejagung) terus melanjutkan penyidikan terhadap kasus korupsi dan pencucian uang yang dilakukan mantan pegawai Ditjen Pajak, Dhana Widyatmika.

Kali ini penyidikan berupa rekonstruksi yang terkait dengan Dhana dan rekan kerjanya yang juga menjadi tersangka, Salman Maghfiroh yang memeras salah satu wajib pajak. Rekonstruksi dilakukan di TIS Square, Pancoran, Jakarta Selatan.

“Hari ini untuk yang bersangkutan. dilakukan rekonstruksi. Kaitannya dengan perbuatan yang bersangkutan pada saat meminta-minta kepada salah satu wajib pajak. Itu yang direkonstruksi pada hari ini. Wajib pajak tersebut adalah PT Kornet Trans Utama (KTU),” ujar Kapuspenkum Kejagung, Adi Toegarisman di Gedung Kejagung, Jalan Sultan Hasanuddin, Jakarta Selatan, Kamis (26/4/2012).

Adi menambahkan, dalam rekonstruksi tersebut selain menghadirkan Dhana dan Salman, juga menghadirkan perwakilan dari PT KTU. Namun, Adi masih menolak untuk menyampaikan hasil rekonstruksi tersebut.

“Ini kan lagi proses, lagi jalan. Posisi kami menyampaikan yang sedang berjalan,” ucapnya.

Sementara itu saat dihubungi terpisah, kuasa hukum Dhana, Daniel Alfredo, membenarkan adanya rekonstruksi tersebut. Namun, ia menolak dengan tegas jika kliennya pernah bertemu dengan salah satu perwakilan PT KTU.

“Tadi klien kami dibawa untuk rekonstruksi tapi intinya klien kami menolak seakan ada suatu pertemuan dengan pihak WP,” tegasnya.

Daniel juga menilai, rekonstruksi yang dilakukan penyidik Kejagung terlalu dipaksakan. Menurut tim kuasa hukum hal tersebut tidak efektif apabila dilakukan dalam rangkaian pemeriksaan.

“Menurut kami rekonstruksi itu tidak efektif ya. Karena klien kami juga menolak kalo ada pertemuan di Tis. Klien kami juga tidak jelaskan mengenai kapan pertemuannya. Sehingga ini tidak jelas, Salman juga sudah menolak adanya pertemuaan tersebut,” ungkapnya.

Sebelumnya, Kejagung telah menetapkan lima tersangka dalam kasus ini. Kelimanya adalah Dhana Widyatmika, Johny Basuki (wajib pajak), Firman (mantan pengawas KPP Pancoran), Herly Isdiharsono (rekan bisnis Dhana) dan Salman Maghfiroh (mantan pegawai Ditjen Pajak).

Mereka dijerat berbagai pasal UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dan UU Tindak Pidana Pencucian Uang.

GambarTips cara menulis berita #1: Menulis dengan jujur. Fakta tidak boleh dipelintir. Opini dan penafsiran harus ditulis dalam alinea yang berbeda. Boleh tidak netral, tapi harus independen. 


Berbohong dalam berita adalah dosa terberat wartawan. Jika jumlah aktivis LSM yang mendemo bupati hanya puluhan orang, jangan tulis ratusan atau ribuan orang. Berita bohong seperti ini sangat sering muncul di koran-koran daerah, terutama menyangkut liputan pilkada.

Tips cara menulis berita #2: Tanda baca koma dan pola piramida terbalik.

Berhati-hatilah menggunakan tanda baca koma. Bila salah penempatan, maka redaktur di kantor redaksi bisa salah memahami laporan anda. “Amir memukul, Budi ditangkap polisi” (yang memukul ialah si Amir, kok malah Budi yang ditangkap) adalah berbeda maknanya dengan “Amir memukul Budi, ditangkap polisi” (ini benar, yang ditangkap adalah Amir).

Menulis berita biasa haruslah dalam format piramida terbalik. Yang palingpenting di bagian paling atas; alinea-alinea di bawahnya semakin kurang penting. Saya sering membaca berita koran daerah yang memuat nama-nama pejabat yang menghadiri sebuah acara seremonial pada alinea kedua atau ketiga, padahal inti beritanya justru di alinea kelima atau bahkan menjelang akhir.

Tips cara menulis berita #3: Catat dengan detail. Dengarkan dengan cermat. Rekam, jangan andalkan ingatan.

Saya sering melihat reporter koran yang baru beberapa tahun bekerja melakukan wawancara atau liputan berita di lapangan dengan tidak mencatat sama sekali! Manusia dengan otak super! Bahkan hanya duduk di warung kopi dengan jarak seratusan meter dari lokasi demo atau acara seremonial yang akan jadi topik beritanya. Tapi sepulang meliput, dia bisa dengan santai menulis berita di komputer warnet, tanpa takut sedikit pun bahwa kemungkinan ada data dan fakta yang salah-tulis.

Wartawan pemula sering malu untuk bertanya, “Pak Kadis, ejaan nama Bapak yang benar Jhonny atau Joni atau bagaimana?”

Kalau narasumber mengucapkan kalimat dengan makna ganda atau kurang jelas, tanyakan kembali dan tegaskan. Jangan sampai yang dia maksud adalah “Polisi belum akan memeriksa dia” tapi anda tulis dalam berita sebagai “Polisi tidak akan memeriksa dia”.

Tips cara menulis berita #4: Tulis dalam kalimat yang jelas, lengkap, dan jernih.

Redaktur koran harian akan membiarkan naskah berita reporter yang ditulis dengan kalimat yang membingungkan, karena dia dikejar tenggat menyelesaikan halamannya. Kalau anda menulis berita kriminal tentang mencuri, maka sebutkan sejelas-jelasnya SIAPA yang mencuri, SIAPA yang menjadi korban, dan APA yang dicuri. Jangan anda malah asyik menulis BAGAIMANA pencurian itu terjadi, atau ajakan kapolsek agar warga melakukan ronda malam.

Yang paling mendasar dalam sebuah berita biasa ialah APA dan SIAPA, baru kemudian DI MANA, KAPAN dan yang lainnya. Jangan tulis “Menurut Amir, bla-bla-bla…” tanpa anda jelaskan siapa itu si Amir; apakah dia demonstran, penonton aksi demo, atau pendukung pihak yang didemo.

Sering saya melihat pembaca koran menggerutu, “Apa maksudnya berita ini, tak jelas.” Berita mesti ditulis dengan kalimat yang jernih. Susunlah kalimat-kalimat tunggal, dan sebisa mungkin hindari memakai anak kalimat jika hal itu berpotensi membuat pembaca bingung.

Tips cara menulis berita #5: Fokus pada topik berita. Jangan melebar ke sana-sini.

Sejak meliput dan wawancara di lapangan, reporter koran sudah harus tahu apa topik atau sudut pandang laporannya. Bila memilih “nasib guru honorer berupah kecil”, maka temuilah pihak-pihak yang terkait dengan isu tersebut. Selain wawancara dengan guru, tanyai juga kepala sekolah, pejabat Dinas Pendidikan, anggota DPRD dari komisi yang membidangi pendidikan, pensiunan guru, dll. Jangan malah anda hanya mengutip komentar aktivis LSM karena dia punya saudara yang baru diputus-kontrak sebagai guru honorer.

Kalau misalnya anda kesal melihat seorang pejabat yang suka berindehoi di kafe-kafe malam, maka liputlah itu secara khusus dan jangan selipkan pada berita bertopik lain, “Ditanya mengenai dugaan korupsi stafnya, Kepala Dinas yang sering berdisko di Tenda Biru ini mengatakan….” Terlalu nampak ‘kali tak dikasih amplop. Malu kita sebagai wartawan.

Tips cara menulis berita #6: Tulis dengan proporsional, jangan berlebihan.

Ini kelemahan banyak reporter koran di daerah. Fakta yang diaperoleh dari narasumbernya, katakanlah kejaksaan, adalah bahwa Kabag Umum sedang diselidiki terkait kasus dugaan penggelembungan dana pembelian seprai dan gorden rumah dinas bupati. Tapi kemudian ditulisnya dalam berita “Tapanuli Utara sarang korupsi”. Jika anda ingin menulis berita Tapanuli Utara sebagai sarang korupsi, maka beberkanlah sekian banyak data kasus korupsi di daerah itu.

Ada wartawan koran menulis berita “Dengan arogannya Camat menjawab via telepon bahwa…” hanya karena si narasumber berbicara ketus-ketus.

Sebaliknya reporter lain yang baru mendapat amplop tebal dari pejabat mengirim naskah berita ke redaksinya “Bupati yang sangat dicintai rakyatnya ini mengatakan…,” padahal si bupati baru saja ditetapkan sebagai tersangka korupsi dan beberapa kali didemo warga.

Tips cara menulis berita #7: Periksa kalimat kutipan, pernyataan off the record, konfirmasi, dan “ucapan di kedai kopi”.

Jangan biarkan beritamu memiliki celah untuk digugat ke pengadilan. Jika harus menulis kalimat langsung, maka tulislah seperti apa adanya diucapkan oleh narasumber. Bila dia mengucapkan kalimat dalam bahasa daerah, misalnya bahasa Batak, telitilah saat menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia.

Saat melihat catatan atau mendengar rekaman wawancara, jika anda bingung atau lupa mana bagian informasi yang merupakan pernyataan off the record (tidak untuk ditulis) dan mana yang bukan, tunda dulu menuliskan bagian itu sebelum berhasil mempertanyakan kembali pada narasumber berita.

Si A menuding si B. Apakah anda sudah melakukan konfirmasi pada si B? Jika belum, jangan dulu menulis berita itu. Kalaupun harus, karena alasan-alasan tertentu, seperti deadline atau faktor kemenarikan topik berita, maka samarkanlah secara total identitas si B. Kalau si A menuding si B dalam tiga hal, maka konfirmasinya tidak boleh hanya menyangkut satu hal.

Wartawan koran duduk-duduk santai bersama pejabat dan politikus di kedai kopi, lalu ada seorang pejabat yang melontarkan pernyataan menarik, kemudian si reporter mengutip kalimat tadi dalam beritanya dengan menuliskan nama si pejabat. Jangan lakukan yang begini. Anda harus kembali menemui si pejabat untuk meminta izin apakah kalimatnya itu boleh anda kutipkan ke dalam berita.

Tips cara menulis berita #8: Yang terakhir, dan ini sangat mendasar: Patuhilah kode etik jurnalistik yang melarang wartawan melakukan plagiat atau menjiplak.

Jangan kira jika anda mengutip beberapa kalimat berita dari koran lain, atau menyadur bahan dari Internet, maka hal itu tidak akan ketahuan. Percayalah, cepat atau lambat akan ada pembaca yang komplain dan menyampaikannya kepada redaksi anda di kantor. Jika begitu, karir kewartawanan anda sudah sedang di ujung tanduk. Redaktur anda akan wanti-wanti untuk menerbitkan berita yang anda laporkan, dan koran lain pun akan berpikir keras untuk menerima lamaran dari wartawan tukang jiplak.

Saya punya pengalaman soal ini. Dulu di sebuah koran mingguan, di mana saya menjadi pemimpin redaksi, ada seorang redaktur saya yang menulis ulasan mengenai ulos Batak “sepanjang air sungai mengalir” alias sangat-sangat panjang. Tulisan itu terbit beberapa edisi, dan memakan ruang satu halaman penuh. Pada edisi kedua, ada seorang pembaca mengirim email kepada saya, dan ada dua orang lainnya yang menelepon langsung ke ponsel saya. Mereka komplain dan mengatakan bahwa artikel perihal ulos Batak itu adalah plagiat alias dijiplak dari situs blog di Internet, dan bukan karya si redaktur.

Memang pada tulisan itu, di bawah judulnya, tertulis “oleh…” (tanda titik-titik adalah nama si redaktur), tanpa keterangan sedikit pun bahwa karya tersebut dikutip dari sejumlah blog Internet. Bahkan dengan beraninya si redaktur menulis kredit-foto pada gambar-gambar ulos: “Foto oleh…” (juga tertulis namanya).

Setelah saya cek dan benar bahwa semua isi artikel dan foto itu adalah karya cipta milik beberapa blogger di Internet, pada koran edisi berikutnya saya menambahkan keterangan di bawah judul: “Dikutip dari berbagai sumber di Internet”. Seharusnya saya hendak menulis alamat-alamat blog yang dikutip, tapi ada alasan tertentu sehingga tidak jadi.

Beberapa hari kemudian dalam rapat redaksi, si redaktur malah protes pada saya. “Mengapa Pemred bikin begitu. Itu sama saja telah melecehkan saya. Berhari-hari saya mencari bahannya dan menggabungkannya menjadi satu tulisan,” katanya.

Bah, makjang! Sudah ketahuan menjiplak tapi masih berkelit pula. Yang dilecehkan itu sebenarnya siapa: dia atau blogger si penulis asli? Tidak lama kemudian, setelah muncul kesalahan-jurnalistik lain dalam tugasnya sebagai redaktur, akhirnya saya memecat dia dan mencari redaktur baru. » Jarar Siahaan dotcom.

Jika harus menulis interpretasi atas sebuah fakta, tuliskanlah di paragraf terpisah, dan tunjukkan secara jelas kepada pembaca supaya mereka tahu mana yang fakta dan mana opini atau penafsiran si wartawan.

Reporter yang meliput berita di lapangan harus bersikap independen terhadap semua pihak yang terkait dengan topik tulisannya. Berikan kesempatan yang sama bagi semua narasumber untuk menjelaskan versi mereka, jangan memvonis kebenaran. Wartawan boleh tidak netral, misalnya kalau harus memihak pada rakyat yang jadi korban penindasan penguasa, namun harus selalu independen dengan memberikan kesempatan pada penguasa untuk berbicara.

Timbun BBM, Polisi Ditangkap

Posted: Maret 31, 2012 in Uncategorized

GambarBandung: I Wayan Sukerta, anggota Kepolisian Daerah Bali ditangkap, Sabtu (31/3). Anggota polisi yang dianugerahi gelar kehormatan itu terbukti menimbun 12,5 ton bahan bakar minyak jenis premium dan solar di bengkel miliknya di kawasan Badung, Bali. Premium dan solar akan dijual kembali ketika harga BBM bersubsidi naik awal April nanti.

Penangkapan ini berawal dari laporan warga yang curiga. Polisi lalu menggerebek bengkel pembuatan batako milik I Wayan Sukerta di Badung. Tak hanya menimbun, tersangka juga juga mengoplos bahan bakar jenis minyak tanah.

Sebagai barang bukti, sebanyak 30 drum BBM berikut peralatan dan bahan pengoplos serta truk tangki yang diduga digunakan untuk mengangkut minyak disita.

Sementara di Garut, Jawa Barat, sebanyak 2,3 ton bahan bakar jenis solar disita dari seorang penjual BBM eceran. Untuk menghindari kecurigaan, tersangka menyembunyikan 12 besar BBM dalam gedung sarang burung walet. Kini, polisi tengah mendalami kemungkinan adanya kerjasama dengan petugas SPBU dalam kasus tersebut [baca: Penimbun Solar di Garut Diciduk].(APY/AIS)

GambarNew York: Tampilan glitter atau yang biasa disebut bling-bling tengah digemari “fashionista”. Jika biasanya “glitter” hanya digunakan sebagai tampilan khusus pesta, kini bling-bling juga bisa dipakai di kesempatan santai. Media Our Vanity membeberkan tips unik menggunakan glitter yang menjadikan penampilan Anda lebih unik di berbagai kesempatan.

1Tampilan bersinar di mata
Untuk mencapai tampilan yang dramatis Anda dapat menambahkan beberapa kristal sesuai tampilan riasan Anda. Tambahkan beberapa kristal yang ditempel di dekat mata Anda.

2Bling-bling di bibir
Setelah menggunakan lisptik, poleskan lip gloss mengilat di bibir Anda. Kilauan di bibir membuat penampilan tampak menarik.

3. Aksesoris bling-bling
Untuk membuat tampilan elegan, tambahkan ikat kepala “bling-bling, seperti bando di kepala Anda. Meski riasan Anda sederhana, tapi hiasan glitter di kepala membuat penampilan Anda berbeda.

4. Bling-bling di kuku
Kuku mengilap dapat dicapai dengan cat kuku glitter atau manikur berlian imitasi. Namun, cat kuku glitter terasa tak nyaman untuk penggunaan sehari-hari. Bling-bling di car kuku ini sebaiknya Anda gunakan pada suatu kesempatan khusus.(AIS)