Prinsip Komunikasi

Posted: Maret 16, 2012 in Uncategorized

Image

                                                                 

Sebagian pakar menguraikan sifat komunikasi ini dengan berbagai istilah, seperti prinsip-prinsip komunikasi, asumsi-asumsi komunikasi, ataupun karakteristik-karakteristik komunikasi. Ada berbagai macam sifat atau prinsip komunikasi diantaranya adalah :

1.Komunikasi adalah suatu proses simbolik
Menurut Susanne K. Langer, kebutuhan pokok dari manusia salah satunya adalah kebutuhan simbolisasi atau penggunaan lambang. Manusia dengan kelebihannya yakni akal adalah satu-satunya makhluk di muka bumi yang menggunakan lambang dalam kehidupannya. Ernst Cassier menegaskan bahwa keunggulan manusia atas makhluk lainnya adalah keistimewaan mereka sebagai animal symbolicum.
Manusia menggunakan banyak symbol atau tanda di segala bidang kehidupan, baik berupa kata-kata (pesan verbal), perilaku nonverbal yang penggunaannya disepakati bersama. Lambang merupakan salah satu kategori tanda yang juga dapat diwakili oleh ikon dan indeks. Namun ikon dan indeks tidak memerlukan kesepakatan, karena ikon adalah suatu benda fisik yang menyerupai apa yang diwakilinya. Seperti patung Soekarno sebagi ikon Soekarno, atau foto kita di KTP adal ikon kita yang tidak memerlukan kesepakatan siapapun lagi. Walaupun belakangan lambang dengan ikon sering tertukar, seperti Putri Diana sebagai ikon (lambang) kecantikan, atau Soeharto sebagai ikon (lambang) kekuasaan. Padahal seharusnya yang dipakai adalah kata yang terdapat dalam dua tanda kurung. Sehingga saat majalah Time edisi internasional tanggal 31 Desember 1999 sebagai tokoh pertama, kedua, dan ketiga adalah lambang ilmu pengetahuan, lambang kemenangan demokrasi atas fasisme dan komunisme, dan lambang penegakan hak asasi manusia. Indeks adalahsuatu benda yang secara alamiah mewakili objek lainnya. Istilah lain yang sering digunakan untuk indeks adalah sinyal (Signal), yang dalam bahasa sehari-hari juga sering disebut gejala (sympton) Indeks muncul karena adanya hubungan antara sebab dan akibat yang punya kedekatan eksistensi., misalnya awan gelap adalah sinyal akan turunnya hujan, sedangkan asap adalah indeks adanya api. Tapi bila asap disepakati sebagai tanda untuk berkumpul maka asap itu adal lambang (seperti pada suku primitif). Namun ketika kita manamai perilaku malu dan marah, yaitu dengan muka merah untuk malu dan suara yang tinggi untuk marah. Kedua ini sebetulnya lebis tepat disebut indeks, tetapi sering juga disebut lambang karena orang sepakat bahwa dengan muka merah menunjukkan orang malu, sedangkan suara yang naik dank eras menunjukkan seseorang marah.
Lambang adalah hal yang bebas, karena apa saja bisa dijadikan sebagai lambang tergantung pada kesepakatan bersama. Apakah itu berbentuk kata-kata (lisan dan tulisan), isyarat anggota tubuh, makanan dan cara makan, tempat tinggal, jabatan, olahraga, angka, bunyi, musik, pekerjaan, waktu, dan sebagainya. Seperti partai politik yang menggunakan gambar sebagai lambang partainya, kawasan tempat tinggal yang menjadi status ekonomi seseorang, makanan yang kita makan menentukan gengsi kita, dan lain sebagainya.
Pada hakikatnya sebuah lambang tidak memiliki makna, kitalah yang memaknainya. Sehingga terkadang bagi orang yang tidak memahami lambang yang telah disepakati di suatu daerah atau komunitas, maka ia akan melakukan hal yang bertentangan dengan maksud dari lambang tersebut. Seperti ketika ada seorang sekretaris yang baru bekerja kemudian disuruh oleh bosnya untuk mengcopy berkas yang akan dipresentasikan dengan menggunakan jargon perkantoran, yaitu “Burn this for me, will you?” akhirnya sekretarinya membakar berkas tadi karena pemahaman ia atas lambang yang disampaikan oleh bosnya. Dan sesungguhnya tidak ada hubungan yang alami antara lambang yang digunakan dengan objek yang dirujuknya (referent). Belum lagi dengan mitos-mitos yang muncul dari angka-angka, seperti angka 13 yang dianggap sebagai anagka sial, ini bermula pada kisah perjamuan Yesus yang terakhir dengan ke-12 muridnya, sehingga saat itu di ruangan ada sebanyak 13 orang. Kemudian aslah satu muridnya yaitu Yudas yang berkhianat padanya sehingga Yesus ditangkap dan disalibkan (menurut mereka), sehingga angka ini menjadi angka yang dianggap tidak boleh digunakan karena akan menyebabkan kesialan bahkan kematian. Belum lagi deretan nomor cantik yang sering dipakai untuk menunjukkan gengsi, yaitu ketika nomor deret kendaraan kita yang cantik seperti D 3 SI, A 1 NG, F 47 AR, dll. Bahkan bila untuk mendapatkan nomor itu harus mengeluarkan uang hingga belasan juta tetap mereka lakukan. Kemudian artis atau actor yang melambangkan peran orang lain, seringkali melekat pada kehidupan pribadinya. Seperti ketika seorang artis menjadi seorang ibu tiri yang kejam dalam sebuah sinetron, maka tidak jarang ia mendapat perlakuan yang tidak senonoh dari masyarakat yang menonton sinetronnya saat bertemu di kehidupan yang nyata.
Lambang juga sangat bervariasi, hal ini sesuai dengan tempat, waktu, budaya yang sangat bervariasi. Hal yang dianggap modern pada masa lampau akan dianggap kuno saat ini. Halyang dianggap sacral di suatu daerah bisa jadi dianggap biasa saja di daerah yang lain.

2.Setiap perilaku mempunyai potensi komunikasi
Setiap perilaku dapat menjadi komunikasi bila kita memberi makna terhadap perilaku orang lain atu perilaku kita sendiri. Setiap orang akan sulit untuk tidak berkomunikasi karena setiap perilaku berpotensi untuk menjadi komunikasi untuk ditafsirkan.
Pada saat seseorang tersenyum maka itu dapat ditafsirkan sebagai suatu kebahagiaan, ketika orang itu cemberut maka dapat ditafsirkan bahwa ia sedang ngambek. Ketika seseorang diam dalam sebuah dialog itu bisa diartikan setuju, malu, segan, marah, atau bahkan malas atau bodoh. Diam bisa diartikan setuju seperti perlakuan Rasulullah saw. yaitu ketika ada seorang sahabat yang menggosaok giginya ketika berwudhu, ini menunjukkan bahwa beliau setuju dengan perlakuan sahabat tadi namun tidak dengan penegasan. Secara implisit semua perlakuan manusia dapat memiliki makna yang akhirnya bernilai komunikasi.

3.Komunikasi mempunyai dimensi isi dan dimensi hubungan
Dimensi isi disandi secara verbal, sedangkan dimensi hubungan disandi secara nonverbal. Dimensi isi menunjukkan tentang muatan apa yang dikatakan, sedangkan dimensi hubungan menunjukkan bagaimana cara mengatakannya yang juga mengisyaratkan bagaimana hubungan para peserta komunikasi itu dan bagaimana seharusnya pesan yang disampaikan ditafsirkan. Contohnya ketika seorang gadis berkata “Ih, jahat kamu” dengan nada yang menggoda kepada seorang pemuda seraya mencubitnya, sebenarnya tidak dimaksudkan jahat dalam arti sebenarnya, bisa jadi sebaliknya yaitu sebagai tanda gemas atau senagn pada pemuda tersebut.Kemudian seorang suami yang diminta pendapat oleh istrinya yang memakai baju yang baru dibelinya dengan tetap mengarahkan wajahnya kea rah televisi yang sedang ia tonton atu sedang surat kabar yang sedan ia baca. Bahkan sorotan kamera pun bisa menimbulkan pengaruh yang berbeda, pada saat di ­close up, medium shot, atau long shot, maka kesan pemirsa pun akan berbeda.

4.Komunikasi berlangsung dalam berbagai tingkatan kesengajangan
Komunikasi dilakukan dalam berbagai kesengajangan, baik komunikasi yang tidak disengaja sampai yang direncanakan. Kita tidak dapat mengendalikan orang lain untuk selalu menafsirkan segala tingkah laku kita.
Dalam berkomunikasi, biasanya kesadaran kita akan lebih pada saat-saat yang khusus, seperti kita diuji dengan ujian lisan oleh dosen kita atau ketika anda berdialog dengan orang asing dengan bahasa asing dibandingkan dengan ketika anda bercanda dengan teman atau kerabat kita di rumah. Kesenjangan bukanlah suatu syarat dalam komunikasi, namun hal ini cukup rumit, misalnya ketika seorang dosen mengajarkan tentang Pengantar Ilmu Komunikasi apakah ia betul-betul menyengajanya, sehingga ia tahu betul apa yang disampaikannya dari menit ke menit serta mimik wajahnya, intonasi bicaranya dan lain-lain yang akan ditampilkannya.
Dalam kehidupan kita seringkali mengeluarkan bahasa verbal tanpa disengaja, terlebih bahasa nonverbal. Anda boleh untuk mempersiapkan naskah pidato anda selama mungkin dan sebagus mungkin, tapi pada saatnya tanpa anda sadarai sakap anda ketika anda berpidato akan menjatuhkan kualitas naskah pidato yang telah anda persiapkan sebaik mungkin. Terkadang sebagian orang ingin menampakkan komunikasi yang disengaja seolah tidak segaja dilakukan.

5.Komunikasi terjadi dalam konteks ruang dan waktu
Komunikasi yang dilakukan seringkali harus disesuaikan dengan konteks ruang dan waktu, betapa tidak jika hal itu tidak kita lakukan maka komunikasi kita akan sangat tidak dihargai. Lelucon yang kita ucapkan di jalan atau di rumah akan tidak cocok pada saat kita mengucapkannya di masjid. Tertawa terbahak-bahak pada saat melawat orang yang meninggal dunia maka itu berarti kita sama sekali tidak menghargai keluarga yang saat itu sedang dalam keadaan sedih bahkan kita akan dsebut sebagai orang yang tidak beradab.

6.Komunikasi melibatkan prediksi peserta komunikasi
Pada saat seseorang berkomunikasi, maka kita harus memperhatikan orang yang menjadi objek komunikasi kita. Sehingga dalam berkomunikasi kita terikat dengan aturan dan tata karma. Artinya kita harus berstrategi agar pesan yang kita sampaikan dapat diterima oleh objek komunikasi kita sesuai dengan harapan kita.

7.Komunikasi itu bersifat sistemik
Setiap individu adalah system yang hidup (a living system). Organ-organ tubuh kita saling berhubungan, kerusakan pada mata kita atau sakit pada gigi kita misalnya akan membuat kepala kita pusing. Kemarahan membuat jantung kita berdetak kencang. Begitu juga dengan komunikasi yang menyangkuy suatu system dari unsur-unsurnya. Setidaknya ada dua system dasar dalam komunikasi, yaitu Internal dan Eksternal. Internal adalah semua system nilai yang dibawa oleh seseorang ketika ia berpartisipasi dalam komunikasi, mencakup kepribadian, pendidikan, pengetahuan, agama, bahasa, motif, intelegensi, keinginan, cita-cita, dan semua pengalaman masa lalunya. Sedangkan eksternal mencakup kata-kata yang ia pilih, isyarat fisik peserta komunikasi, kegaduhan di sekitarnya, panataan ruangan, cahaya, dan temperature ruangan.

8.Semakin mirip latar belakang social budaya semakin efektiflah komunikasi
Komunikasi yang efektif adalah pada saat pesan yang disampaikan sampai sesuai dengan yang diharapkan oleh para pesertanya.

9.Komunikasi bersifat nonsekuensial
Pada prinsipnya komunikasi pasti dilakukan dua arah, ada yang menjadi pembicara yang melakukan komunikasi verbal dan nonverbal dan ada yang menjadi pendengar yang berkomunikasi dengan nonverbal.

10.Komunikasi bersifat prosesual, dinamis, dan transaksional
Komunikasi tidak mempunyai awal dan akhir, melainkan merupakan proses sinambung (continuous). Bahkan kejadian sesederhana apapun dalam komunikasi, ini melalui proses yang rumit.
Implikasi komunikasi bersifat dinamis dan transaksional adalah bahwa peserta komunikasi berubah (dari sekadar perubahan pengetahuan hingga perilaku dan pandangan dunia). Implisit dalam proses komunikasi sebagai transaksi ini adalah proses penyandian (encoding), penyandian balik (decoding). Kedua proses itu, meskipun secara teoritis dapat dipisahkan, namun sebenarnya terjadi serempak. Jadi, kita melakukannya pada saat yang hampir bersamaan pada saat kita berkomunikasi. Sebetulnya antara pembicara dengan pendengar sama-sama melakukan pemberian dan penerimaan pesan secara bersamaan.

11.Komunikasi bersifat Irreversible
Dalam komunikasi, sekali andan mengirimkan pesan, anda tidak dapat mengendalikan pengaruh pesan tersebut bagi khalayak, apalagi menghilangkan efek pesan itu sama sekali. Sifat irreversible ini adalah implikasi dari komuikasi sebagai suatu proses yang selalu berubah, sehingga kita harus berhati-hati pada saat menyempaikan pesan kepada orang lain. Terutama pada saat kita berkomunikasi yang pertama kali, kita harus berhati-hati karena kesan pertama begitu berkesan bagi pendengar.

12.Komunikasi bukan Panasea untuk menyelesaikan berbagai masalah
Banyak konflik yang terjadi disebabkan oleh komunikasi, tapi komunikasi bukanlah panasea (obat mujarab) untuk menyelesaikan permasalahan, karena bisa jadi masalahnya bersifat structural. Agar komunikasi ini efektif, maka kendala structural ini harus juga dibatasi. Seperti konflik-konflik disintregasi bangsa yang tidak hanya dengan komunkasi, tetapi harus diimplementasikan pemecahannya dengan apa yang menjadi keinginan dari warga. Maka harus ada saling pengertian yang mendalam untuk menyelesaikannya.

Daftar Pustaka

Mulyana, Deddy. Ilmu komunikasi: Suatu Pengantar. Bandung. Remaja Rosdakarya..2001.

Saefullah, Ujang. Kapita Selekta KomunikasiPendekatan Budaya dan Agama. Bandung. Simbiosa Rekatama Media. 2007.

Effendy, Onong Uchyana. Ilmu Komunikasi, Teori dan Praktek. Bandung. Remaja Rosdakarya. 1994

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s